GEOMORFOLOGI SUMATERA

GEOMORFOLOGI SUMATERA

Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau (menurut data tahun 2004, http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia), sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni tetap, menyebar sekitar katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya dan rangkaian pulau-pulau ini disebut pula sebagai kepulauan Nusantara atau kepulauan Indonesia.

Gambar 1 Peta Pulau Sumatera

http://www.jakartastreetatlas.com/peta/sumatera.htm

Geomorfologi Pulau Sumatera

Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan Kepulauan Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudera Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar, antara lain; Asahan (Sumatera Utara), Kampar, Siak dan Sungai Indragiri (Riau), Batang Hari (Sumatera Barat, Jambi), Ketahun (Bengkulu), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung).

Di bagian barat pulau, terbentang Pegunungan Barisan yang membujur dari utara hingga selatan. Hanya sedikit wilayah dari pulau ini yang cocok digunakan untuk pertanian padi. Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang hingga saat ini masih aktif, seperti Merapi (Sumatera Barat), Bukit Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Jambi). Pulau Sumatera juga banyak memiliki danau besar, di antaranya Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau Dibawah (Sumatera Barat), dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan).

Luas Pulau Sumatra ± 435.000 km² memanjang dari Barat – Laut ke tenggara dengan panjang 1.650 Km dari UleLhee sampai Tanjung Cina (Djodjo dkk, 1985, 41) lebar pulau di bagian Utara berkisar 100 – 200 Km di bagian Selatan mencapai 350 Km. Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia.

Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.

(http://www.geografi.web.id/2009/08/geomorfologi-sumatera.html)

Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau Sumatera agak sederhana. Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya, yang memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara (Melaboh dan Singkel/Singkil) yang lebarnya ±20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah rendah aluvial.

Gunung Berapi di Sumatera

Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.

Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.

Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:

 

–           Aliran lava

–           Letusan gunung berapi

–           Aliran lumpur

–           Abu

–           Kebakaran hutan

–           Gas beracun

–           Gelombang tsunami

–           Gempa bumi

 

Gunung berapi yang tertinggi di Sumatra adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatra Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatra merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi disepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatra; dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia disepanjang lepas pantai sisi barat Sumatra.

Berikut ini ialah gunung-gunung yang terdapat di Sumatera, Gunung ;

1) Abongabong

Ketinggian 2.985 meter (9.793 kaki), Lokasi Lokasi Sumatera, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan, Jenis Stratovolcano.

2)       Bacan Gutang

3)       Balai

4)       Balak

5)       Bandara (NAD)

Ketinggian 3.030  meter, Lokasi Kabupaten Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darussalam Indonesia, Jenis Gunung tidak berapi

6)       Bapagat

7)       Batee Hitam

8)       Bateekeubeu

9)       Berakah

10)   Bering

11)   Besagi

12)   Besar

13)   Beser

14)   Beteemecica

15)   Bur ni Telong (NAD)

16)   Geureudong

17)   Daik

Ketinggian 1.165  meter, Lokasi Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau Indonesia, Jenis Gunung tidak berapi

18)   Dempo (Sumatera Selatan)

Ketinggian 3,173 meter (10,410 kaki), Lokasi Sumatera, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan Koordinat 4°02′S 103°08′E / -4.03; 103.13, Jenis Stratovolcano. Letusan terakhir 2009.

19)   Dingin

Ketinggian 1.279 meter (4.196 kaki) Lokasi Lokasi Bengkulu, Sumatera Selatan

20)   Gampang

21)   Garba

22)   Gedang Seblat

Ketinggian 2.050 meter (6.726 kaki), Lokasi Bengkulu, Jambi, Indonesia.

23)   Geureudong

Ketinggian 2,885 meter (9,465 ft), Lokasi Sumatera, Indonesia, Koordinat 4°48′47″N 96°49′12″E, Jenis stratovolcano Letusan terakhir 1937.

24)   Gumai

25)   Hitam

Ketinggian 1.279 meter (4.196 kaki) Lokasi Bengkulu, Sumatera Selatan

26)   Hulu Air Putih

27)   Jabul

28)   Jadi

29)   Kaba

Ketinggian 1.938 meter (6.358 kaki) Lokasi Lokasi Bengkulu, Sumatera Selatan

30)   Kalau

31)   Kayu Aro

32)   Kerinci

Ketinggian 3,805 m (12.484 ft) Ketinggian topografi 3,805 m (12.484 ft), Lokasi Jambi. Jenis Stratovolcano Busur/sabuk vulkanik Cincin Api, Pasifik Letusan terakhir 2009.

33)   Krakatau

Gunung Krakatau pada lukisan abad ke-19. Ketinggian 813 m (2,667 kaki), Lokasi Selat Sunda, Indonesia, Koordinat 6°6′27″LS,105°25′3″BT, Jenis Kaldera vulkanik. Letusan terakhir 4 Agustus 2009.

34)   Lelematsua

35)   Leuser (NAD)

36)   Lubukraya

Ketinggian 1.862 meter (6.109 kaki), Lokasi Sumatera, Indonesia Koordinat 1°28′41″N 99°12′32″E.  / 1.478; 99.209Jenis stratovolcano Letusan terakhir tidak diketahui.

37)   Marapi Sumatera Barat

Koordinat 0°22′50″S 100°28′24″E. / -0.38056; 100.47333 Jenis Stratovolcano Umur batuan Pleistosen Busur/sabuk vulkanik Busur Sunda Letusan terakhir 2004.

38)   Maras

Ketinggian 699  meter Lokasi Lokasi Pulau Bangka, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Geologi Jenis Gunung tidak berapi

39)   Masurai

Ketinggian 2.980 meter (9.777 kaki) Lokasi Jambi, Indonesia

40)   Mueajan

41)   Nanti

42)   Pandan

43)   Pandan Bungsu

44)   Panetoh

45)   Panjang

46)   Pantai Cermin

47)   Pasaman

Ketinggian 2.900 meter (9.515 kaki), Lokasi Sumatera Barat, Indonesia Pendakian Rute termudah Desa Durian Kandang

48)   Patah

Ketinggian 2,817 meter (9,242 kaki), Lokasi Sumatra, Indonesia. Koordinat 4°16′S 103°18′E. Letusan terakhir 1994.

49)   Patahsembilan

50)   Payung

51)   Perkison (2300 m) NAD

Ketinggian 2.828  meter, Lokasi Kabupaten Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam Indonesia. Jenis Gunung tidak berapi.

52)   Pesagi (2.262 m) Lampung

Ketinggian 2.262 meter, Lokasi Lampung. Pendakian Rute termudah Desa Hujung.

53)   Pesawaran (Lampung)

54)   Puet Sague

Ketinggian 2,801 meter, Lokasi Meureudu, Sigli, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia Koordinat 4°54′50″N 96°19′44″E. / 4.914; 96.329 Jenis Komplek Gunung berapi. Letusan terakhir 2000.

55)   Pinapan

56)   Pugung

Ketinggian 1.964 meter (6.445 kaki). Lokasi Lampung, Indonesia.

57)   Punggur

Ketinggian 1.877 meter (6.158 kaki), Lokasi Lampung, Indonesia.

58)   Rajabasa (Lampung)

Ketinggian 1,281 m (4.203 kaki). Lokasi Sumatera, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan Koordinat 05°47′00″S 105°37′30″E.  / -5.783333; 105.625Jenis stratovolcano. Letusan terakhir tidak diketahui. Pendakian Rute termudah Desa Marambung.

59)   Ranai

Ketinggian 1.035  meter. Lokasi Pulau Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Jenis Gunung tidak berapi.

60)   Ratai

Ketinggian 1.681 meter (5.515 kaki). Lokasi Lampung, Indonesia

61)   Ridingan

Ketinggian 1.608 meter (5.276 kaki). Lokasi Lampung, Indonesia

62)   Runcing

63)   Sago (2500 m) Sumatra Barat

Ketinggian 2.261 m (7 ft), Lokasi Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan Koordinat 0°19′37″S 100°40′14″E

64)   Sanggul

65)   Seblat (Bengkulu)

Ketinggian 2.383 meter (7,818 kaki). Lokasi Bengkulu, Sumatera Selatan. Pegunungan Bukit Barisan. Pendakian Rute termudah Air Lisai

66)   Segama

67)   Sekicau

Ketinggian 1.718 meter (5.636 kaki) Lokasi Lokasi Lampung, Indonesia

68)   Sembuang

69)   Seminung (Lampung)

70)   Seulawah Agam

Ketinggian 1.726 meter (5.663 kaki), Lokasi Sumatera, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan. Koordinat 5°25′51″N 95°39′28″E. Jenis Stratovolcano, Letusan terakhir 1839

71)   Sibayak (2.212 m) Sumatra Utara

Sibayak pada tahun 1987 Ketinggian 2,212 m (7.257 ft), Lokasi Sumatera, Indonesia. Koordinat 3°12′0″N 98°31′0″E. / 3.2; 98.51667 Jenis Stratovolcano. Letusan terakhir 1881

72)   Sibuatan (Sumatera Utara)

73)   Sihabuhabu (Sumatera Utara)

74)   Sinabung (2.475 m) Sumatra Utara

Sinabung pada tahun 1987 Ketinggian 2.460 m (8 ft). Koordinat 3°10′12″N 98°23′31″E. Jenis Stratovolcano. Umur batuan Pleistosen Busur/sabuk vulkanik Busur Sunda. Letusan terakhir 7 September 2010.

75)   Singgalang (2.877 m) Sumatra Barat

Gunung Singgalang Ketinggian 2.877 m (9 ft). Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan. Koordinat 0°23′24″S 100°19′51″E. Jenis stratovolcano.

76)   Sipoimcim

77)   Sorik Marapi

Ketinggian 2.145 meter (7.037 kaki). Lokasi Sumatera Utara, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan. Koordinat 0°41′11″S 99°32′13″E. Jenis Strato, Letusan terakhir 1987. Pendakian Pertama didaki tercatat tahun 1830

78)   Sumbing

Ketinggian 2,507 meter (8,225 kaki). Lokasi Sumatera, Indonesia. Koordinat 2°24′50″S 101°43′41″E.  / -2.414; 101.728 Jenis Stratovolcano. Letusan terakhir 1921.

79)   Susup

80)   Talamau (Sumatera Barat)

Talamau Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Indonesia. Ketinggian 2.913 m (10 ft). Lokasi Pegunungan Bukit Barisan. Koordinat 0°16′29.14″N 99°55′46.28″E

81)   Talang (Sumatra Barat)

Ketinggian 2,597 m (8.520 ft). Lokasi Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan. Koordinat 0°58′42″S 100°40′46″E.  / -0.97833; 100.67944Jenis Stratovolcano. Umur batuan Pleistosen Busur/sabuk vulkanik Busur Sunda. Letusan terakhir 2007

82)   Tampulonanjing

83)   Tandikat (Sumatra Barat)

Gunung Tandikat (kiri) dan Gunung Singgalang (kanan) dilihat dari Gunung Marapi Ketinggian 2.438 m (8 ft). Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia. Pegunungan Bukit Barisan Koordinat 0°25′57″S 100°19′1″E. Jenis stratovolcano

84)   Tanggamus (Lampung)

Ketinggian 2.102 meter (6.896 kaki) Lokasi Lokasi Lampung, Indonesia

85)   Tanggang

Ketinggian 1.162 meter (3.812 kaki) Lokasi Lokasi Lampung, Indonesia

86)   Tangkit Cumbi

Ketinggian 1.162 meter (3.812 kaki) Lokasi Lokasi Lampung, Indonesia

87)   Tangkit Tebak

88)   Tebo Salak

89)   Tengah Teras

90)   Tinjaulaut

91)   Ulumasen

Ketinggian 2.390 meter (7.841 kaki) Lokasi Lokasi Aceh, Indonesia

 

Bentuk Muka Bumi Sumatera

Bentuk permukaan Pulau Sumatera terdiri dari 3 bagian besar: (1). Bukit Barian, (2) Dataran rendah di bagian timur, (3) Jalur perbukitan (kaki timur bukit barisan).

Pegunungan Bukit Barisan adalah jajaran pengunungan yang membentang dari ujung utara (Aceh) sampai ujung selatan (Lampung) pulau Sumatra, memiliki panjang lebih kurang 1650 km. Rangkaian pegunungan ini mempunyai puncak tertinggi Gunung Kerinci yang berlokasi di Jambi, berketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Pegunungan Bukit Barisan terletak dekat pertemuan antara pelat tektonik Eurasia dan Australia.

Bukit Barisan Pegunungan

Pegunungan Bukit Barisan di sepanjang jalan raya BukittinggiPayakumbuh. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung. Titik tertinggi Gunung Kerinci -elevasi 3.805 m (12.484 ft) Panjang 1.025 mi (1.650 km), utara–selatan.

Jalur perbukitan (kaki gunung bukit barisan) adalah bekas cekungan yang tertimbun oleh endapan tebal, yang kemudian terangkat oleh tenaga endogen. Jalur ini banyak terdapat minyak bumi seperti: Sungai Komering, Sungai Bila dan antara Sungai Besitang-Krueng Meureudu.

  1. Topografi Pulau Sumatera

Secara garis besar topografi Pegunungan Sumatra dapat dibagi kedalam tiga bagian yang menjalur dari Barat Laut – Tenggara sebagai berikut :

a)        Bagian Barat, daerah ini berupa dataran memanjang sepanjang pantai yang secara tidak menentu terpotong oleh igir-igir yang menyentuh pantai. Dataran pantai memiliki lebar yang di berbagai tempat tidak sama. Dataran pantai yang lebar hanya terdapat di beberapa tempat di antaranya di Meolaboh dan Singkil di Sumatra Utara.

b)       Bagian Tengah, bagian ini merupakan jalur vulkanis (Inner Arc) yang menduduki bagian tengah Pulau Sumatra dengan posisi agak ke Barat. Jalur ini dikenal denan sebutan Bukit Barisan. Bukit barisan ini memiliki lebar yang tidak sama. Bukit Barisan (Zone Barisan) mengalami peristiwa-peristiwa geologis yang berulang-ulang. Zone Barisan dapat diuraikan menjadi tiga yaitu Zona Barisan Selatan, Zone Barisan Tengah dan Zona Barisan Utara (Van Bemmelen, 1949, 678).

  1. Zona Barisan Sumatera Selatan

Zona ini dibagi menjadi tiga unit blok sesaran yaitu :

  • Blok Bengkulu (The Bengkulu Block)

Pada Bagian Barat membentuk monoklinal dengan kemiringan 5 – 10° ke arah Laut India (Indian Ocean) dan tepi Timur Laut berupa bidang patahan. Batas Timur Laut Blok Bengkulu adalah Semangko Graben, Ujung Selatan Semangko Graben berupa Teluk Semangko di Selat Sunda. Sedangkan panjang Graben Semangko yang membentang dari Danau Ranau – Kota Agung di Teluk Semangko adalah 45 Km dan lebarnya 10 Km.

  • Blok Semangko (The Semangko Block)

Terletak diantara Zone Semangko Sesaran Lampung (Lampung Fault). Bagian Selatan dari blok Semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti pegunungan Semangko, Depresi Ulehbeluh dan Walima, Horst Ratai dan Depresi Telukbetung. Sedangkan bagian Utara Blok Semangko (Central Block) berbentuk seperti Dome (diameter + 40 Km).

Patahan Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi.

 

Patahan ini merupakan patahan geser, seperti patahan San Andreas di California. Memanjang di sepanjang Pulau Sumatra, mulai dari ujung Aceh hingga Selat Sunda, dengan bidang vertikal dan pergerakan lateral meng-kanan (dextral-strike slip).

Sesar ini menyebabkan terjadinya gempa di darat oleh sebab pelepasan energi di sesar/patahan Semangko apabila sesar tersebut teraktifkan kembali (peristiwa reaktivasi sesar) dengan bergesernya lapisan batuan di sekitar zona sesar tersebut. Pergerakan sesar yang merupakan salah satu sesar teraktif di dunia ini diyakini disebabkan oleh desakan lempeng India-Australia ke dalam lempeng Eurasia.

Bagian barat sesar ini bergerak ke utara dan bagian timur bergerak ke selatan. Jika lama tidak terjadi gempa besar, artinya sedang terjadi pengumpulan energi di patahan tersebut. Di sepanjang Patahan Sumatera ini terdapat pula ribuan patahan kecil yang juga dapat mengakibatkan rawan gempa. Seperti halnya gempa asal laut, gempa darat di Sumatera biasanya juga cukup besar dan menyebabkan kerusakan yang cukup parah.

Ngarai Sianok, terbentuk akibat adanya patahan Semangko.

  • Blok Sekampung (The Sekampung Blok)

Blok Sekampung merupakan sayap Timur Laut Bukit Barisan di Sumatra Selatan. Blok ini merupakan Pasang Blok Bengkulu. Kalau dilihat secara keseluruhan maka Zone Barisan bagian Selatan (di daerah Lampung) memperlihatkan sebagai geantiklin yang besar di mana Bengkulu Block sebagai sayap Barat Daya, lebar 30 Km kemudian Sekampung Blok sebagai sayap Timur Laut, lebar 35 Km dan puncak geantiklinnya adalah central block (Blok Semangko) dengan lebar 75 Km.

  1. Zone Barisan Sumatra Tengah

Zona Barisan di daerah Padang memiliki lebar 140 Km dan bagian tersempit selebar 60 Km yaitu di Padang Sidempuan. Blok Bengkulu (the bengkulu Block) dapat ditelusuri sampai ke Padang sebagai pembentuk sayap Barat Daya bukit Barisan (Zone Barisan). Di Utara Padang, sayap Bukit Barisan Barat Daya di duduki oleh Danau Maninjau (a volcano tectonic trought), Gunung Talakmau dan Gunung Sorikmarapi.

Zone Semangko membenteng dari Danau Kerinci sampai ke Danau Singkarak. Zone ini oleh Tobler disebut Schicfer Barisan (Van Bemmelen, 1949, 667) membentang memanjang searah dengan Sistem Barisan baik di Sumatra Tengah maupun Sumatra Selatan. Sayap Timur Laut yang terletak di Utara Danau Singkarak ke Tenggara. Di sebelah Utara Danau Singkarak sampai ke Rau berstruktur Horst dan Graben dengan posisi memanjang.

  1. Zona Barisan Sumatra Utara

Zona Barisan Sumatra Utara dibagi menjadi dua unit yang berbeda (Van Bemmelen, 1949, 687) yaitu Tumor Batak dan pegunungan di Aceh.

  • Tumor Batak (The Batak Culmination with the Lake Toba)

Tumor Batak, panjang 275 Km dan lebar 150 Km. puncak tertinggi Gunung Sibuatan 2.457 m di bagian Barat Laut Toba, Gunung Pangulubao 2151 terletak di bagian Timur Toba. Di bagian Tenggara adalah G. Surungan 2.173 m dan dibagian barat adalah Gunung Uludarat 2.157 m. Sejarah pembentukan Tumor Batak tidak diuraikan di sini mengingat memiliki sejarah volcano tectonic yang panjang dan lebih banyak bersifat geologis.

  • Pegunungan di Aceh

Van Bemmelen menyebutkan bahwa pegunungan Barisan di Aceh belum banyak disingkap sehingga pembicaraan mengenai pengaruh penggangkatan pada plio-pleistocene terhadapsistem Barisan di Aceh sangat sedikit. Bagian utara Zone Barisan dimulai dengan pegunungan di Aceh yang searah dengan Lembah Krueng Aceh. Jalur ini terus menyambung kearah Tenggara ke pegunungan Pusat Gayo dengan beberapa puncak seperti Gunung Mas 1.762m, Gunung Bateekebeue 2.840 m, Gunung Geureudong 2.590 m, Gunung Tangga 2,500 m, Gunung Abongabong 2.985 m, G. Anu 2.750 m, Gunung Leiser 3.145 m, untuk G. Leuser letaknya agak ke Barat bila dibanding dengan posisi gunung lainnya. Dari uraian Zone Barisan maka terdapat satu keistimewaan di mana pada bagian puncak Zone Barisan terdapat suatu depresi yang memanjang dari Tenggara ke Barat Laut. Depresi ini di beberapa tempat terganggu oleh lahirnya kenampakan baru sebagai hasil peristiwa tektovulkanik maupun erupsi vulkan.

c)        Bagian Timur Pulau Sumatra sebagian besar berupa hutan rawa dan merupakan dataran rendah yang sangat luas. Dataran rendah ini menurut Dobby merupakan dataran terpanjang yang tertutup rawa di daerah tropik di Asia Tenggara (Djodjo dkk, 1985, 42). Bagian Timur Sumatra selalu mengalami perluasan sebagai hasil pengendapan material yang terbawa oleh aliran sungai dari sayap Timur Zone Barisan.

Di bagian arah Barat Pulau Sumatra (di Samudera India) terdapat deretan pulau-pulau yang bersifat non vulkanik. Rangkaian pulau-pulau ini merupakan outerarc. Posisi pulau-pulau memanjang arah Barat Laut – Tenggara. Di bagian Timur Pulau Sumatra terdapat Kepulauan Riau, bangka, Belitung, Lingga, Singkep.

Cekungan di Pulau Sumatera

Cekungan Sumatera Tengah

Cekungan Sumatera tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia. Cekungan Sumatra tengah ini relatif memanjang Barat laut-Tenggara, dimana pembentukannya dipengaruhi oleh adanya subduksi lempeng Hindia-Australia dibawah lempeng Asia. Batas cekungan sebelah Barat daya adalah Pegunungan Barisan yang tersusun oleh batuan pre-Tersier, sedangkan ke arah Timur laut dibatasi oleh paparan Sunda. Batas tenggara cekungan ini yaitu Pegunungan Tiga puluh yang sekaligus memisahkan Cekungan Sumatra tengah dengan Cekungan Sumatra selatan. Adapun batas cekungan sebelah barat laut yaitu Busur Asahan, yang memisahkan Cekungan Sumatra tengah dari Cekungan Sumatra utara.

Cekungan Sumatera Selatan

Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier berarah barat laut – tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah barat daya, Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut yang memisahkan Cekungan Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatera Tengah.

Tektonik Regional

Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan busur belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian Lampung.

(http://hidayatardiansyah.wordpress.com/2008/02/12/geologi-regional-cekungan-sumatera-selatan/)

Menurut Salim et al. (1995), Cekungan Sumatera Selatan terbentuk selama Awal Tersier (Eosen – Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben berkembang sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut antara lempeng Samudra India di bawah lempeng Benua Asia.

Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), diperkirakan telah terjadi 3 episode orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah Cekungan Sumatera Selatan yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir – Tersier Awal dan Orogenesa Plio – Plistosen.

Episode pertama, endapan – endapan Paleozoik dan Mesozoik termetamorfosa, terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi oleh batolit granit serta telah membentuk pola dasar struktur cekungan. Episode kedua pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak – gerak tensional yang membentuk graben dan horst dengan arah umum utara – selatan. Episode ketiga berupa fase kompresi pada Plio – Plistosen yang menyebabkan pola pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan dan sesar sehingga membentuk konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang berkembang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan.

Cekungan Bengkulu

Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan fore-arc di Indonesia. Cekungan forearc artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore-arc; arc = jalur volkanik). Tetapi, kita menyebutnya demikian berdasarkan posisi geologinya saat ini.

Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam hal ini adalah volcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah. Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti tidak ada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri tidak ada.

Begitulah yang selama ini diyakini, yaitu bahwa pada sebelum Miosen Tengah, atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan. Mulai saat itulah, Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan Cekungan Sumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).

Cekungan Bengkulu merupakan salah satu dari dua cekungan forearc di Indonesia yang paling banyak dikerjakan operator perminyakan (satunya lagi Cekungan Sibolga-Meulaboh). Meskipun belum berhasil menemukan minyak atau gas komersial, tidak berarti cekungan-cekungan ini tidak mengandung migas komersial. Sebab, target-target pemboran di wilayah ini (total sekitar 30 sumur) tak ada satu pun yang menembus target Paleogen dengan sistem graben-nya yag telah terbukti produktif di Cekungan-Cekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

Gradient geothermal yang besar ini merupakan anomali pada sebuah forearc basin yang rata-rata di Indonesia sekitar 2.5 F/100 ft atau di bawahnya (Netherwood, 2000); Bila dibandingkan cekungan forearc lain, memang banyak publikasi menyebutkan thermal Cekungan Bengkulu di atas rata-rata. Itu pula yang dipakai sebagai salah satu pemikiran bahwa Cekungan ini dulunya bersatu dengan Cekungan Sumatera Selatan (pada Paleogen)—pemikiran yang juga didukung oleh tatanan tektonostratigrafinya.

Gradient geothermal dipengaruhi konduktivitas termal masing-masing lapisan pengisi cekungan dan heatflow dari basement di bawah cekungan. Apabila basementnya kontinen, maka ia akan punya heatflow yang relatif lebih tinggi daripada basement intermediat dan oseanik. Selain itu, kedekatan dengan volcanic arc akan mempertinggi thermal background di wilayah ini dan berpengaruh kepada konduktivitas termal. Gradient geothermal yang diluar kebiasaan ini, tentu saja baik bagi pematangan batuan induk dan generasi hidrokarbon.

  1. Bentuk-bentuk Lahan

Bentuk lahan struktural

Ngarai Sianok, terbentuk akibat adanya patahan Semangko

Bentuk lahan vulkanik

Gunung Api Dempo. Ketinggian 3,173 meter (10,410 kaki), Lokasi Sumatera Selatan.

Bentuk lahan pelarutan

Gua Harimau di wilayah Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan

Bentuk lahan fluvial

Pulau Kemaro, di tengah sungai Musi, Palembang Sumatera Selatan

Bentuk lahan marin

Bungus Bay, Padang

Gosong Sinyaru

Letak Gosong sinyaru ini Terletak di dekat Pulau sinyaru Kodya padang berjarak kira-kira 3 mil arah selatan teluk bayur. Hanya sekitar 40 menit dari pelabuhan Muara Padang atai sekitar 30 menit dari TPI Bungus, kita sudah sampai kepulau ini dengan mempergunakan perahu 80 HP. Pulau ini merupakan pulau yang relatif kecil yang terletak lebih kurang 11 mill dari pusat kota Padang. Setiap harinya puluhan kapal-kapal nelayan bagan yang berasal dari kawasan Bungus lego jangkar di sekitar perairan pulau ini untuk berlindung dan menunggu hari sore untuk berangkat ketengah laut mencari ikan. Pantainya terdiri dari pasir putih halus dan landai. Keindahan bawah lautnya dapat dilihat di sekeliling pulau yang ditumbuhi oleh karang dari acropora bercabang, heliopora, pada kedalaman 2-3 meter lebih didominasi oleh pertumbuhan karang-karang lunak. Pertumbuhan karang ditemukan sampai dengan kedalaman 15 meter menjadikan panorama lautnya menjadi indah untuk diselami. Lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat penyelaman scuba dan snorkelling karena didukung oleh kejernihan air dan keanekaragaman terumbu karangnya yang cukup padat.

Bentuk lahan biologis

Langkat, Sumut – Kerusakan hutan mangrove (bakau), karena beralih fungsi menjadi lahan tambak dan kebun sawit, semakin nyata terjadi di berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Bentuk lahan antropogenik

Teluk bayur

http://adesanjaya.com/tag/pelabuhan-pulau-baai-bengkulu/page/2

Pelabuhan Baai Bengkulu Terletak Di Pantai Barat Pulau Sumatera

Sawahlunto Merupakan Kota Kecil Yang Terletak di Sumatera Barat,

Bentuk lahan denudasional

Bukit Maninjau

Bencana tanah longsor dari perbukitan Leter W di pinggiran Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, awal Oktober 2009 dan merusak empat jorong (kampung) merupakan peristiwa ulangan yang pernah terjadi tahun 1980.

Bentuk lahan glasial

Bentuk lahan angin

Sumber;

Adriansyah, Dony. 2008. Gempa Bumi di Sumatera Barat. http://donyadriansyah.blogspot.com/2008/08/gempa-bumi-mengapa-di-sumatra-barat.html

Adriansyah, Hidayat. 2008. Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan. http://hidayatardiansyah.wordpress.com/2008/02/12/geologi-regional-cekungan-sumatera-selatan/

Anonim. 2011. Karakteristik batu bara di cekungan bengkulu. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://iagibengkulu.blogspot.com/2010/11/karakteristik-batubara-di-cekungan_27.html

Anonim. 2010. ……………….. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://adventuresumateranusantara.blogspot.com/2010_07_01_archive.html

Anonim. 2009. Cekungan Bengkulu. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://geologi.iagi.or.id/2009/03/22/cekungan-bengkulu/

Anonim. 2009. Geomorfologi Sumatera. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://www.geografi.web.id/2009/08/geomorfologi-sumatera.html

Anonim. 2009. Geologi Daerah Sumatera. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://geologi2002-geoiunpak.blogspot.com/2009/07/geologi-daerah-sumatra.html

Anonim. 2010. ……………….. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://bangjenggotinfo.blogspot.com/2010_08_01_archive.html

Anonim. 2009. Danau Buatan Ditargetkan Jadi Kawasan Wisata Sumatera. Diakses pada; 21/12/2010. Tersedia di; http://riauku.wordpress.com/2009/01/08/danau-buatan-ditargetkan-jadi-kawasan-wisata-sumatera/

Anonim. 2010. Gua Harimau Menyingkap fajar Sejarah Sumatera. Diakses pada; 21/12/2010. Tersedia di; http://hurahura.wordpress.com/2010/10/30/gua-harimau-menyingkap-fajar-sejarah-sumatera/

Ega. 2010. Wisata di Sawahlunto. Diakses pada; 21/12/2010. Tersedia di; http://egadichini.blogspot.com/2010/03/wisata-di-sawahlunto.html

http://dewaputu.co.cc

Iskandar, Rudi. ………. Kuliah 1 GeoRegional Indonesia. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://www.slideshare.net/rudiiskandar/kuliah-1-geo-regional-indonesia

Rovicky. 2009. Gempa Retakan Kerak Bumi Membentuk Danau Malawi. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://rovicky.wordpress.com/2009/12/20/gempa-retakan-kerak-bumi-membentuk-danau-malawi/

Sanjaya, Ade. ……….  Pelabuhan Pulau BAAI Bengkulu. Diakses pada; 28/12/2010. Tersedia di; http://adesanjaya.com/tag/pelabuhan-pulau-baai-bengkulu/page/2

Wikipedia. ………. Pegunungan Bukit Barisan. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://id.wikipedia.org/wiki/Pegunungan_Bukit_Barisan

Wikipedia. ………. Gunung. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung

Wikipedia. ………. Geografi Indonesia. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Indonesia

Wikipedia. ………. Patahan. Diakses pada; 19/12/2010. Tersedia di; http://id.wikipedia.org/wiki/Patahan

http://www.moreindonesia.com/wp-content/uploads/2010/11/Danau-buatan-limbungan-picture-by-dee-photowoks-31.jpg

Danau Limbungan di Kelurahan Limbungan Kec. Rumbai Danau Limbungan

Kota Pekanbaru – Riau – Indonesia

http://uchihajaka.blogspot.com/2010/01/pulau-di-tengah-sungai.html]

http://kembangsalira.files.wordpress.com/2008/12/pltalamajan-750060.jpg

Selam, 2009. Gosong Sinyaru. Diakses pada; 28/12/2010. Tersedia di; http://selampancing.blogspot.com/2009/03/gosong-sinyaru.html#

Cahkendals, 2009. Pulau Pisang Gadang. http://pikniklaut.blogspot.com/2009/07/pulau-pisang-gadang.html

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

kompetensi-kompetensi guru

1.1    Pengertian Guru

Dengan diberlakukannya Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, serta PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, secara resmi profesi guru telah disejajarkan dengan profesi lainnya sebagai tenaga profesional. Guru ialah tenaga pengajar yang memenuhi persyaratan;

  1. Memiliki kualifikasi akademik
  2. Memiliki kompetensi
  3. Memiliki sertifikasi pendidik
  4. Sehat jasmani dan rohani
  5. Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional

(Farida S.  2008 ; 14)

Dari kelima persyaratan di atas, kompetensi profesi guru akan dibahas lebih jauh dalam makalah ini.

Sementara pengertian guru  yang dituliskan pada Kunandar, 2007 adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Untuk menjadi profesional, seorang guru dituntut memiliki empat hal, yakni:

  1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.
  2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini meryupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
  3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampau tes hasil belajar.
  4. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa.

1.2    Peran, dan Fungsi Guru

Guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi, dan penilaian. Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiagnosa kebutuhan para siswa sebagai subjek belajar, merumuskan tujuan kegiatan proses pembelajaran, dan menetapkan strategi pengajaran yang ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan. Sebagai pengimplementasi rencana pengajaran yang telah disusun, guru hendaknya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada dan berusaha “memoles” setiap situasi yang muncul menjadi situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Pada saat melaksanakan kegiatan evaluasi, guru harus dapat menetapkan prosedur dan teknik evaluasi yang tepat. Jika tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada kegiatan perencanaan belum tercapai, maka ia harus meninjau kembali serta rencana implementasinya dengan maksud untuk melakukan perbaikan.

Dari semua itu, guru memiliki peran yang penting dalam terlahirnya generasi-generasi muda yang intelek dan cerdas. Secara sederhana, peran guru dapat disebutkan sebagai berikut;

  1. Mengatur kegiatan belajar siswa
  2. Memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas
  3. Memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa

 

1.3    Pengertian Kompetensi dan Kompetensi Guru

Pengertian kompetensi menurut Usman (2005) dalam Kunandar (2007) adalah “suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif”. Kompetensi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. (McAshan dalam E. Mulyasa, dalam Kunandar, 2007).

Sementara dalam buku yang disusun oleh Farida Sarimaya, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalanya. Hal ini didasarkan dalam UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen Bab I Ketentuan Umum pasal 1 poin ke 10.

Pengertian kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Dalam pengertian lain dikatakan kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.

1.4    Kompetensi-Kompetensi dan Tugas Guru

Tugas seorang guru telah disebutkan secara jelas dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sebagaimana telah dituliskan dimuka, bahwa untuk menjadi seorang pendidik profesional, maka seorang pendidik harus memiliki kompetensi, kualifikasi dan sertifikasi pendidik. Sehingga membuatnya mendapat pengakuan secara resmi dari lembaga pendidikan yang melaksanakan sertifikasi.

Sagala (2005:210) mengemukakan guru yang profesional harus memiliki sepuluh kompetensi dasar, yaitu (1) menguasai landasan-landasan pendidikan, (2) menguasai bahan pelajaran, (3) kemampuan mengelola program belajar mengajar, (4) kemampuan mengelola kelas, (5) kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar, (6) menilai hasil belajar siswa, (7) kemampuan mengenal dan menterjemahkan kurikulum, (8) mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, (9) memahami prinsip-prinsip dan hasil pengajaran, dan (10) mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan.

Adlan (2000:32) mengemukakan dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, kompetensi guru dibagi dalam tiga bagian yaitu:
(1) kompetensi kognitif, yaitu kemampuan dalam bidang intelektual, seperti pengetahuan tentang belajar mengajar, dan tingkah laku individu, (2) Kompetensi afektif, yaitu kesiapan dan kemampuan guru dalam berbagai hal yang berkaitan dengan tugas profesinya, seperti menghargai pekerjaannya, mencintai mata pelajaran yang dibinanya, dan (3) kompetensi perilaku, yaitu kemampuan dalam berperilaku, seperti membimbing dan menilai.

Depdiknas (2004:9) merumuskan ruang lingkup kompetensi guru ke dalam tiga komponen. Pertama, komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran, yang mencakup (1) penyusunan perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, (3) penilaian prestasi belajar peserta didik, (4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian. Kedua, komponen kompetensi pengembangan potensi yang diorientasikan pada pengembangan profesi. Ketiga, kompetensi penguasaan akademik yang mencakup (1) pemahaman wawasan pendidikan, (2) penguasaan bahan kajian akademik.

Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi pedagogik menurut Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran.

Hamzah B. Uno dalam bukunya Profesi Kependidikan; 2007, mengungkapkan bahwa kompetensi pribadi yang harus dimiliki seorang guru yaitu memiliki pengetahuan yang dalam tentang materi pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya. Selain itu, mempunyai pengetahuan tentang perkembangan peserta didik serta kemampuan untuk memperlakukan mereka secara invidual. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi: (1) pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, (2) pengetahuan tentang budaya dan tradisi, (3) pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) pengetahuan tentang estetika, (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, (6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, (7) setia terhadap harkat dan martabat manusia. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi.

Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial.

Sedangkan kompetensi profesional menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lempeng-Lempeng yang Membentuk Indonesia

Gambar 1

Anonim. 2008. Diakses pada; 30 November 2010. Tersedia di; http://draft2pena.wordpress.com/2008/05/page/2/

Uraian Singkat

Indonesia merupakan sebuah negara yang dibentuk oleh tiga lempeng besar dunia, yakni; lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Di samping itu, lempeng filiphina yang merupakan lempeng kecil, juga ikut mempengaruhi terbentuknya pulau-pulau di Indonesia. Lempeng-lempeng ini memiliki arah gerakan yang masing-masing berbeda.

Gambar 2

Jika kita lihat pada gambar 2 di atas, nampak bahwa Indonesia terletak di antara tiga lempeng besar dunia yang memiliki arah gerak yang berbeda-beda. Lempeng Eurasia yang berada di bagian utara Indonesia bergerak ke arah selatan-tenggara. Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah timur laut Indonesia, dan lempeng Pasifik ke arah barat-barat daya Indonesia. Sedangkan lempeng Filiphina bergerak ke arah barat daya Indonesia.

Lempeng-lempeng inilah yang selama berpuluh juta tahun yang lalu membentuk Gugusan Kepulauan Indonesia hingga menjadi seperti sekarang ini. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dengan arahnya masing-masing. Bahkan akhir-akhir inipun nampak di permukaan bumi Indonesia begitu banyak bencana-bencana alam seperti meletusnya gunung Merapi di Provinsi Jawa, yang secara teori meletusnya gunung api merupakan dampak dari adanya tumbukan antara dua lempeng yang berbeda; yaitu lempeng benua dan lempeng samudra. Dalam hal ini dapat ditunjukan dengan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Letak Indonesia yang demikian, membuat negara kita ini memiliki banyak gunung api aktif. Karena memang interaksi lempeng yang konvergen (bertumbukan) dapat mengakibatkan adanya gunung-gunung api di sepanjang zona subduksi (zona penunjaman), dimana lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua. Gunung-gunung api di Indonesia tersebar di sepanjang barat-barat daya pulau Sumatera dan sebelah selatan pulau Jawa. Gunung-gunung api di kedua pulau ini merupakan hasil interaksi dari lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Dalam istilahnya, rentetan jalur gunung api di daerah ini merupakan jalur pegunungan Sirkum Mediterania. Sementara di wilayah utara Sulawesi merupakan jalur pegunungan Sirkum Pasifik. Kedua jalur pegunungan ini membentuk jalur pegunungan dunia yang dikenal dengan sebutan “Ring of Fire”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Proposal Penelitian Pendidikan

Proposal Penelitian

PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM-GAMES-TOURNAMENT (TGT) PADA HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN ATMOSFER

Oleh;
Arif Kurniawan
451 408 009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI (S1)
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2010
Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Di Indonesia, pendidikan ditempatkan sebagai salah satu bidang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Baik buruknya sebuah pendidikan atau yang biasa kita sebut dengan kualitas pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan ini diperparah lagi dengan maraknya jual beli gelar yang menghasilkan gelar dan ijazah palsu. Yang lebih ironis lagi penjual dan pembeli gelar palsu dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh masyarakat. Gelar tersebut diperoleh tanpa melalui proses pendidikan yang sebenarnya. Di satu sisi, orang dengan susah payah berusaha mendapatkan gelar, di sisi lain gelar itu diobral (Kunandar, 2007).
Terlebih lagi, terdapat sebuah ketidaktepatan dalam penempatan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban mendidiknya. Di beberapa wilayah, Provinsi Gorontalo misalnya, para pengajar mata pelajaran Geografi sebagian besar pendidikannya bukanlah berasal dari geografi itu sendiri, sehingga muncul istilah “guru geografi yang di geografikan”. Hal ini mungkin tidak begitu bermasalah jika guru tersebut memiliki kemampuan lebih dalam bidang tersebut, atau memiliki dasar pendidikan yang berkaitan dengan geografi, seperti bidang ilmu fisika.
Terlepas dari itu, untuk dapat menumbuhkan kualitas pendidikan Indonesia, maka kebutuhan utama yang harus diperhatikan tentulah peran para guru yang profesional. Yaitu, guru-guru yang memiliki kompetensi-kompetensi sebagaimana yang dicantumkan dalam UU Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005 yang meliputi; kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional.
Salah satu bentuk keprofesionalan guru ialah kemampuannya dalam mengelola kelas, bagaimana agar supaya suasana pembelajaran dalam kelas dapat berlangsung dengan efektif dan menyenangkan. Sehingga peserta didik mampu mengolah setiap informasi/hal-hal yang disajikan di dalam kelas. Maka dari itu, untuk mampu mengelola kelasnya, seorang guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana cara mengelola kelas yang salah satunya ialah dengan metode dan model pengajaran.
Pemakaian sebuah atau beberapa metode harus berkesesuaian dengan perumusan tujuan instruksional khusus. Jarang sekali guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.
Dalam prakteknya, pembelajaran yang bersifat konvensional merupakan pembelajaran yang masih sering digunakan oleh guru-guru geografi (guru yang di-geografi-kan) di sekolah-sekolah di Provinsi Gorontalo, khususnya di SMA yang penulis amati. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat penguasaan materi dan pemahaman siswa. Dimana pembelajaran dipandang sebagai membelajarkan siswa, bukan siswa yang belajar, atau dengan kata lain, pembelajaran masih terpusat oleh guru.
Dari uraian di atas, maka penulis akan mengkaji penerapan salah satu metode pembelajaran kooperatif dengan judul; “Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT) Pada Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Atmosfer”.

1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran mata pelajaran geografi ialah;
a) Siswa tidak dilibatkan secara utuh dalam proses pembelajaran
b) Siswa kurang diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui dalam materi tersebut.
c) Sebagian siswa masih belum sepenuhnya memahami dalam pokok bahasan atmosfer.
d) Siswa cenderung kesulitan dalam menjawab soal uraian yang menuntut kemampuan menganalisa.
e) Guru lebih banyak menggunakan model konvensional dalam pembelajaran

1.3 Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat penulis rumuskan apa yang menjadi permasalahan yaitu apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan metode pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament (TGT) dengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan atmosfer?

1.4 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulis adalah untuk melihat perbedaan antara pembelajaran geografi pokok bahasan atmosfer yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team-games-tournament.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut;
a) Untuk guru, sebagai sebuah bahan informasi ilmiah tentang peran pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa khususnya dalam pokok bahasan atmosfer.
b) Untuk sekolah, memberikan sebuah informasi dan pengalaman tentang pelaksanaan metode pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament khususnya dalam pokok bahasan atmosfer.

Bab II Kajian Pustaka

2.1 Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar mengajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan belajar mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak dari proses belajar yang merupakan bukti dari usaha yang telah dilakukan. Menurut Hamalik (2002: 155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
(http://www.lintasberita.com/go/1390869)

2.2 Pembelajaran Konvensional
Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran konvensional sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
Pembelajaran konvensional mempunyai sifat:
a. Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
b. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”.
c. Kelompok belajar biasanya homogen.
d. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.
e. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.
f. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
g. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar
h. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.

2.3 Metode Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan reformasi pendidikan. Pembelajaran kooperatif meliputi banyak jenis bentuk pengajaran dan pembelajaran yang merupakan perbaikan tipe pembelajaran tradisional. Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dalam kumpulan kecil supaya anak didik dapat bekerja sama untuk mempelajari kandungan pelajaran dengan berbagai kemahiran sosial.
Cooperatif berarti bekerjasama dan learning berarti belajar, jadi belajar melalui kegiatan bersama. Namun tidak semua kegiatan bersama berarti cooperatif learning. Cooperatif Learning merupakan suatu model pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil, bekerja sama. Menurut Slavin dalam (Isjoni, 2007; 12 dalam Buchari A., 2009; 81), cooperatif learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang, dengan struktur kelompok heterogen. Keberhasilan dari motode ini sangat bergantung pada kemampuan aktifitas anggota kelompok, baik secara indvidual maupun kelompok.
Pendekatan pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa ciri, antara lain:
1) Keterampilan sosial
Artinya keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi dalam kelompok untuk mencapai dan menguasai konsep yang diberikan guru.
2) Interaksi tatap muka
Setiap individu akan berinteraksi secara bersemuka dalam kelompok. Interaksi yang serentak berlangsung dalam setiap kelompok melalui pembicaraan setiap individu yang turut serta mengambil bagian.
3) Pelajar harus saling bergantung positif
Artinya setiap siswa harus melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyelesaikan tugas dalam kelompok itu. Setiap siswa mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bagian dalam kelompok. Siswa yang mempunyai kelebihan harus membantu temannya dalam kelompok itu untuk tercapainya tugas yang diberikan kepada kelompok itu. Setiap anggota kelompok harus saling berhubungan, saling memenuhi dan bantu-membantu.
Menurut Kagan (1994), pembelajaran kooperatif mempunyai banyak manfaat, yaitu:
a. dapat meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif siswa;
b. dapat meningkatkan kemahiran sosial dan memperbaiki hubungan sosial;
c. dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan;
d. dapat meningkatkan kepercayaan diri;
e. dapat meningkatkan kemahiran teknologi

Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat mengambil pengertian bahwa pembelajaran kooperatif adalah sebuah pembelajaran dengan cara mengelompokan siswa ke dalam beberapa kelompok yang saling bekerjasama dan saling berbagi tanggung jawab.
Beberapa perbedaan yang mendasar antara pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensioanal adalah bahwa pada pembelajaran Kooperatif mempunyai sifat:
a. Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
b. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan
c. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan
d. Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok
e. Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan
f. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.
g. Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
h. Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)

2.4 Pengertian Metode Belajar Team-Games-Tournament (TGT)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah, lembut, dan santun. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
Model pembelajaran ini mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1) Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru.
2) Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik.
3) Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4) Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5) Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40.

2.5 Tinjauan Materi Atmosfer
Kata atmosfer berasal dari kata atmos yang artinya udara dan shpere yang artinya lapisan. Jadi, atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Atmosfer bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer memiliki sifat-sifat antara lain;
a) Memiliki massa dan tekanan
b) Bersifat dinamis dan elastis
c) Tembus pandang terhadap semua bentuk radiasi
d) Tidak berasa
e) Tidak berwarna
f) Tidak berbau

Karena atmosfer merupakan lapisan-lapisan, maka terdapat beberapa lapisan atmosfer yang sangat berguna dalam kehidupan makhluk hidup di bumi. Beberapa lapisan ini memiliki ketebalan dan komposisi yang berbeda. Lapisan-lapisan tersebut ialah troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer. Batasan lapisan atmosfer ini tidak dapat diketahui mana batas lapisan atmosfer, dan mana batas ruang angkasa.
Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari lapisan atmosfer ini. Karena dalam lapisan ini juga dapat kita jumpai apa yang disebut dengan lapisan ozon yang terdapat di lapisan stratosfer. Salah satu kegunaan dari lapisan ozon ini adalah kemampuannya dalam menyaring sinar ultra violet dari matahari yang jika terlalu banyak menembus bumi, maka akan sangat akan teramat berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Sehingganya dengan dapat menyajikan materi atmosfer ini dengan baik, menyenangkan dan efektif, maka dapat kita ciptakan generasi-generasi muda yang sadar akan pentingnya atmosfer.

2.6 Hipotesis
Dari permasalahan di atas, penulis dapat mengajukan hipotesis bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team-games-tournament dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pengertian Hasil Belajar. Diakses pada; 11 November 2010. Tersedia di; http://www.lintasberita.com/go/1390869
Alma, Buchari. 2009. Guru Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar). Bandung; Alfabeta
Djamarah, S. B., dan Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta; Asdi Mahasatya
Firstiawan. 2010. Macam-macam Metode dalam Mengajar. Tersedia di; http://firstiawan.student.fkip.uns.ac.id/2010/03/10/macam-macam-metode-dalam-mengajar/
Kiranawati. 2007. Metode Team-Games-Tournament (TGT). Tersedia di; http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/metode-team-games-tournament-tgt/
Kunandar. 2007. Guru Profesional (Implementasi KTSP dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru). Jakarta; Raja Grafindo Persada
Mas Sofa. 2008. Metode Diskusi dalam Pembelajaran. Tersedia di; http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-diskusi-dalam-pembelajaran/
Ketut, Juliantara. 2009. Pendekatan Pembelajaran Konvensional. Diakses pada 11/11/2010. Tersedia di; http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/20/pendekatan-pembelajaran-konvensional/
Sofa. 2008. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional. Diakses pada 11/11/2010. Tersedia di; http://massofa.wordpress.com/2008/09/12/perbedaan-pembelajaran-kooperatif-dan-pembelajaran-konvensional/

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment