Proposal Penelitian Pendidikan

Proposal Penelitian

PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM-GAMES-TOURNAMENT (TGT) PADA HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN ATMOSFER

Oleh;
Arif Kurniawan
451 408 009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI (S1)
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2010
Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Di Indonesia, pendidikan ditempatkan sebagai salah satu bidang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
Baik buruknya sebuah pendidikan atau yang biasa kita sebut dengan kualitas pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan ini diperparah lagi dengan maraknya jual beli gelar yang menghasilkan gelar dan ijazah palsu. Yang lebih ironis lagi penjual dan pembeli gelar palsu dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh masyarakat. Gelar tersebut diperoleh tanpa melalui proses pendidikan yang sebenarnya. Di satu sisi, orang dengan susah payah berusaha mendapatkan gelar, di sisi lain gelar itu diobral (Kunandar, 2007).
Terlebih lagi, terdapat sebuah ketidaktepatan dalam penempatan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban mendidiknya. Di beberapa wilayah, Provinsi Gorontalo misalnya, para pengajar mata pelajaran Geografi sebagian besar pendidikannya bukanlah berasal dari geografi itu sendiri, sehingga muncul istilah “guru geografi yang di geografikan”. Hal ini mungkin tidak begitu bermasalah jika guru tersebut memiliki kemampuan lebih dalam bidang tersebut, atau memiliki dasar pendidikan yang berkaitan dengan geografi, seperti bidang ilmu fisika.
Terlepas dari itu, untuk dapat menumbuhkan kualitas pendidikan Indonesia, maka kebutuhan utama yang harus diperhatikan tentulah peran para guru yang profesional. Yaitu, guru-guru yang memiliki kompetensi-kompetensi sebagaimana yang dicantumkan dalam UU Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005 yang meliputi; kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional.
Salah satu bentuk keprofesionalan guru ialah kemampuannya dalam mengelola kelas, bagaimana agar supaya suasana pembelajaran dalam kelas dapat berlangsung dengan efektif dan menyenangkan. Sehingga peserta didik mampu mengolah setiap informasi/hal-hal yang disajikan di dalam kelas. Maka dari itu, untuk mampu mengelola kelasnya, seorang guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana cara mengelola kelas yang salah satunya ialah dengan metode dan model pengajaran.
Pemakaian sebuah atau beberapa metode harus berkesesuaian dengan perumusan tujuan instruksional khusus. Jarang sekali guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.
Dalam prakteknya, pembelajaran yang bersifat konvensional merupakan pembelajaran yang masih sering digunakan oleh guru-guru geografi (guru yang di-geografi-kan) di sekolah-sekolah di Provinsi Gorontalo, khususnya di SMA yang penulis amati. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat penguasaan materi dan pemahaman siswa. Dimana pembelajaran dipandang sebagai membelajarkan siswa, bukan siswa yang belajar, atau dengan kata lain, pembelajaran masih terpusat oleh guru.
Dari uraian di atas, maka penulis akan mengkaji penerapan salah satu metode pembelajaran kooperatif dengan judul; “Pengaruh Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Games-Tournament (TGT) Pada Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Atmosfer”.

1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran mata pelajaran geografi ialah;
a) Siswa tidak dilibatkan secara utuh dalam proses pembelajaran
b) Siswa kurang diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui dalam materi tersebut.
c) Sebagian siswa masih belum sepenuhnya memahami dalam pokok bahasan atmosfer.
d) Siswa cenderung kesulitan dalam menjawab soal uraian yang menuntut kemampuan menganalisa.
e) Guru lebih banyak menggunakan model konvensional dalam pembelajaran

1.3 Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat penulis rumuskan apa yang menjadi permasalahan yaitu apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan metode pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament (TGT) dengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan atmosfer?

1.4 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulis adalah untuk melihat perbedaan antara pembelajaran geografi pokok bahasan atmosfer yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team-games-tournament.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut;
a) Untuk guru, sebagai sebuah bahan informasi ilmiah tentang peran pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa khususnya dalam pokok bahasan atmosfer.
b) Untuk sekolah, memberikan sebuah informasi dan pengalaman tentang pelaksanaan metode pembelajaran koperatif tipe team-games-tournament khususnya dalam pokok bahasan atmosfer.

Bab II Kajian Pustaka

2.1 Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar mengajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan belajar mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak dari proses belajar yang merupakan bukti dari usaha yang telah dilakukan. Menurut Hamalik (2002: 155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
(http://www.lintasberita.com/go/1390869)

2.2 Pembelajaran Konvensional
Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran konvensional sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
Pembelajaran konvensional mempunyai sifat:
a. Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok
b. Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”.
c. Kelompok belajar biasanya homogen.
d. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.
e. Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan.
f. Pemantauan melalui onservasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
g. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar
h. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.

2.3 Metode Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan reformasi pendidikan. Pembelajaran kooperatif meliputi banyak jenis bentuk pengajaran dan pembelajaran yang merupakan perbaikan tipe pembelajaran tradisional. Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dalam kumpulan kecil supaya anak didik dapat bekerja sama untuk mempelajari kandungan pelajaran dengan berbagai kemahiran sosial.
Cooperatif berarti bekerjasama dan learning berarti belajar, jadi belajar melalui kegiatan bersama. Namun tidak semua kegiatan bersama berarti cooperatif learning. Cooperatif Learning merupakan suatu model pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil, bekerja sama. Menurut Slavin dalam (Isjoni, 2007; 12 dalam Buchari A., 2009; 81), cooperatif learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang, dengan struktur kelompok heterogen. Keberhasilan dari motode ini sangat bergantung pada kemampuan aktifitas anggota kelompok, baik secara indvidual maupun kelompok.
Pendekatan pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa ciri, antara lain:
1) Keterampilan sosial
Artinya keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi dalam kelompok untuk mencapai dan menguasai konsep yang diberikan guru.
2) Interaksi tatap muka
Setiap individu akan berinteraksi secara bersemuka dalam kelompok. Interaksi yang serentak berlangsung dalam setiap kelompok melalui pembicaraan setiap individu yang turut serta mengambil bagian.
3) Pelajar harus saling bergantung positif
Artinya setiap siswa harus melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyelesaikan tugas dalam kelompok itu. Setiap siswa mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bagian dalam kelompok. Siswa yang mempunyai kelebihan harus membantu temannya dalam kelompok itu untuk tercapainya tugas yang diberikan kepada kelompok itu. Setiap anggota kelompok harus saling berhubungan, saling memenuhi dan bantu-membantu.
Menurut Kagan (1994), pembelajaran kooperatif mempunyai banyak manfaat, yaitu:
a. dapat meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif siswa;
b. dapat meningkatkan kemahiran sosial dan memperbaiki hubungan sosial;
c. dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan;
d. dapat meningkatkan kepercayaan diri;
e. dapat meningkatkan kemahiran teknologi

Dari beberapa pengertian di atas, penulis dapat mengambil pengertian bahwa pembelajaran kooperatif adalah sebuah pembelajaran dengan cara mengelompokan siswa ke dalam beberapa kelompok yang saling bekerjasama dan saling berbagi tanggung jawab.
Beberapa perbedaan yang mendasar antara pembelajaran kooperatif dan pembelajaran konvensioanal adalah bahwa pada pembelajaran Kooperatif mempunyai sifat:
a. Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.
b. Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan
c. Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan
d. Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok
e. Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong-royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan
f. Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.
g. Guru memperhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
h. Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai)

2.4 Pengertian Metode Belajar Team-Games-Tournament (TGT)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah, lembut, dan santun. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
Model pembelajaran ini mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1) Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru.
2) Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik.
3) Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4) Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5) Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40.

2.5 Tinjauan Materi Atmosfer
Kata atmosfer berasal dari kata atmos yang artinya udara dan shpere yang artinya lapisan. Jadi, atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Atmosfer bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer memiliki sifat-sifat antara lain;
a) Memiliki massa dan tekanan
b) Bersifat dinamis dan elastis
c) Tembus pandang terhadap semua bentuk radiasi
d) Tidak berasa
e) Tidak berwarna
f) Tidak berbau

Karena atmosfer merupakan lapisan-lapisan, maka terdapat beberapa lapisan atmosfer yang sangat berguna dalam kehidupan makhluk hidup di bumi. Beberapa lapisan ini memiliki ketebalan dan komposisi yang berbeda. Lapisan-lapisan tersebut ialah troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer. Batasan lapisan atmosfer ini tidak dapat diketahui mana batas lapisan atmosfer, dan mana batas ruang angkasa.
Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari lapisan atmosfer ini. Karena dalam lapisan ini juga dapat kita jumpai apa yang disebut dengan lapisan ozon yang terdapat di lapisan stratosfer. Salah satu kegunaan dari lapisan ozon ini adalah kemampuannya dalam menyaring sinar ultra violet dari matahari yang jika terlalu banyak menembus bumi, maka akan sangat akan teramat berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Sehingganya dengan dapat menyajikan materi atmosfer ini dengan baik, menyenangkan dan efektif, maka dapat kita ciptakan generasi-generasi muda yang sadar akan pentingnya atmosfer.

2.6 Hipotesis
Dari permasalahan di atas, penulis dapat mengajukan hipotesis bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team-games-tournament dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pengertian Hasil Belajar. Diakses pada; 11 November 2010. Tersedia di; http://www.lintasberita.com/go/1390869
Alma, Buchari. 2009. Guru Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar). Bandung; Alfabeta
Djamarah, S. B., dan Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta; Asdi Mahasatya
Firstiawan. 2010. Macam-macam Metode dalam Mengajar. Tersedia di; http://firstiawan.student.fkip.uns.ac.id/2010/03/10/macam-macam-metode-dalam-mengajar/
Kiranawati. 2007. Metode Team-Games-Tournament (TGT). Tersedia di; http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/metode-team-games-tournament-tgt/
Kunandar. 2007. Guru Profesional (Implementasi KTSP dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru). Jakarta; Raja Grafindo Persada
Mas Sofa. 2008. Metode Diskusi dalam Pembelajaran. Tersedia di; http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-diskusi-dalam-pembelajaran/
Ketut, Juliantara. 2009. Pendekatan Pembelajaran Konvensional. Diakses pada 11/11/2010. Tersedia di; http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/20/pendekatan-pembelajaran-konvensional/
Sofa. 2008. Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional. Diakses pada 11/11/2010. Tersedia di; http://massofa.wordpress.com/2008/09/12/perbedaan-pembelajaran-kooperatif-dan-pembelajaran-konvensional/

About these ads
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s